BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit
sel sabit adalah hemoglobinopati herediter dimana sel-sel darah merah (SDM)
mengandung hemoglobin abnormal.Anemia sel sabit (atau penyakit Hemoglobin S)
adalah salah satu hemoglobinopati yang paling umum terlihat dan berat.Prevalensi
gen sel sabit yang tinggi terdapat di bagian tropik yang dapat mencapai hingga
40 % di daerah tertentu. Dikenal 3 jenis mutasi gen yaitu bantu, benin dan
senegal yang diberi nama sesuai daerah asalnya. Prevalensi Hb S lebih rendah di
dapat juga di daerah Mediteranian, Saudi Arabia dan beberapa bagian di
India.Hemoglobin S adalah hemoglobin abnormal yang paling banyak
didapat.Pembawa sifat diturunkan secara dominan. Insiden diantara orang Amerika
berkulit hitam adalah sekitar 8 % sedangkan status homozigot yang diturunkan
secara resesif berkisar antara 0,3 – 1,5 %. (Noer Sjaifullah H.M, 1999, hal
535)
Thalasemia adalah kelainan pada darah akibat sumsum tulang
belakang tidak bisa membentuk protein untuk memproduksi sel darah merah
(hemoglobin).Kini jumlah penderita talasemia semakin meningkat dari tahun ke
tahun. ”Menurut data WHO, 7% dari total penduduk dunia adalah pembawa sifat
talasemia dan saat ini 6–10% penduduk Indonesia adalah pembawa sifat
talasemia,”Penyakit talasemia hanya dapat terjadi bila 25% sel darah seseorang
normal menikah dengan 50% sel darah seseorang yang terinfeksi talasemia, maka
akan menurunkan sifat atau gen talasemia kepada anak-anaknya dan akan
mendapatkan keturunan yang terkena talasemia.
1.2 Rumusan
Masalah
Ada
beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini antara
lain :
1)
Apakah
definisi penyakit sel sabit dan thalassemia?
2)
Bagaimanakah
etiologi dan patofisiologi dari kedua penyakit tersebut?
3)
Jelaskan
bagaimana manifestasi klinis dari kedua penyakit ini?
4)
Bagaimana
penatalaksanaannya?
5)
Bagaimanakah asuhan keperawatan pada penyakit sel sabit
dan thalassemia ini ?
1.3 Tujuan
Agar
mahasiswa lebih memahami tentang penyakit sel sabit dan thalassemia, tentang
etiologi dan patofiologisnya,manifestasi klinisnya,penatalaksanaannya,serta
asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit sel sabit dan thalassemia.
BAB II
PENYAKIT SEL SABIT dan
THALASEMIA
2.1 Definisi
Penyakit
Sel Sabit (sickle
cell disease) adalah suatu penyakit keturunan yang ditandai dengan sel
darah merah yang berbentuk sabit dan anemia hemolitik kronik.
Pada penyakit sel sabit, sel darah merah memiliki hemoglobin (protein pengangkut oksigen) yang bentuknya abnormal, sehingga mengurangi jumlah oksigen di dalam sel dan menyebabkan bentuk sel menjadi seperti sabit.Sel yang berbentuk sabit menyumbat dan merusak pembuluh darah terkecil dalam limpa, ginjal, otak, tulang dan organ lainnya; dan menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke organ tersebut. Sel sabit ini rapuh dan akan pecah pada saat melewati pembuluh darah, menyebabkan anemia berat, penyumbatan aliran darah, kerusakan organ dan mungkin kematian.
Pada penyakit sel sabit, sel darah merah memiliki hemoglobin (protein pengangkut oksigen) yang bentuknya abnormal, sehingga mengurangi jumlah oksigen di dalam sel dan menyebabkan bentuk sel menjadi seperti sabit.Sel yang berbentuk sabit menyumbat dan merusak pembuluh darah terkecil dalam limpa, ginjal, otak, tulang dan organ lainnya; dan menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke organ tersebut. Sel sabit ini rapuh dan akan pecah pada saat melewati pembuluh darah, menyebabkan anemia berat, penyumbatan aliran darah, kerusakan organ dan mungkin kematian.
Thalassemia
adalah salah satu dari penyakit genetik yang diwariskan dari orang tua kepada
anaknya melalui gen yang menyebabkan berkurangnya sel-sel darah merah yang
sehat dan hemoglobin dari keadaan normal. Pada penderita thalassemia, cacat genetic menyebabkan
tingkat pembentukan salah satu rantai-rantai globin yang menyusun hemoglobin
menjadi berkurang .Sintesa salah satu rantai globin yang berkurang tersebut
dapat menyebabkan pembentukan molekul hemoglobin yang abnormal, sehingga
menyebabkan anemia, sebagai gejala khas thalassemia yang nampak. Jenis
Talasemia
Talasemia terbagi 3 jenis yaitu :
·
Talasemia major, paling
serius. Ia juga dikenali sebagai Cooley's anemia sempena nama doktor yang
mula-mula menjumpai penyakit ini pada tahun 1925. Talasemia
major merujuk kepada mereka yang mempunyai baka talasemia sepenuhnya dan
menunjukkan tanda-tanda talasemia.
·
Talasemia intermedia, Cooley's
anemia yang sederhana.
·
Talasemia minor, tidak
mempunyai gejala tetapi terdapat perubahan dalam darah. alasemia minor
merujuk kepada mereka yang mempunyai kecacatan gen talasemia tetapi tidak
menunjukkan tanda-tanda talasemia atau pembawa.
2.2 Etiologi
Penyakit sel sabit adalah hemoglobinopati yang
disebabkan oleh kelainan struktur hemoglobin. Kelainan struktur terjadi pada
fraksi globin di dalam molekul hemoglobin.Globin tersusun dari dua pasang
rantai polipeptida.Misalnya, Hb S berbeda dari Hb A normal karena valin
menggantikan asam glutamat pada salah satu pasang rantainya. Pada Hb C, lisin
terdapat pada posisi itu.
Substitusi asam amino pada penyakit
sel sabit mengakibatkan penyusunan kembali sebagian besar molekul hemoglobin
jika terjadi deoksigenasi (penurunan tekanan O2). Sel-sel darah
merah kemudian mengalami elongasi dan menjadi kaku serta berbentuk sabit.
Sel Darah Merah Berbentuk Sabit
Deoksigenasi dapat terjadi karena
banyak alasan.Eritrosit yang mengandung Hb S melewati sirkulasi mikro secara
lebih lambat daripada eritrosit normal, menyebabkan deoksigenasi menjadi lebih
lama.Eritrosit Hb S melekat pada endotel, yang kemudian memperlambat aliran
darah.Peningkatan deoksigenasi dapat mengakibatkan SDM berada di bawah titik
kritis dan mengakibatkan pembentukan sabit di dalam mikrovaskular. Karena
kekakuan dan bentuk membrannya yang tidak teratur, sel-sel sabit berkelompok,
dan menyebabkan sumbatan pembuluh darah, krisis nyeri, dan infark organ
(Linker, 2001). Berulangnya episode pembentukan sabit dan kembali ke bentuk
normal menyebabkan membran sel menjadi rapuh dan terpecah-pecah.Sel-sel
kemudian mengalami hemolisis dan dibuang oleh sistem monositmakrofag.Dengan
demikian siklus hidup SDM jelas berkurang, dan meningkatnya kebutuhan
menyebabkan sumsum tulang melakukan penggantian.Hal-hal yang dapat menjadi
penyebab anemia sel sabit adalah infeksi, disfungsi jantung, disfungsi paru,
anastesi umum, dataran tinggi, dan menyelam. (Price A Sylvia, 2006)
Thalassemia merupakan akibat dari
ketidakseimbangan pembuatan rantai asam amino yang membentuk hemoglobin yang
dikandung oleh sel darah merah. Sel darah merah membawa oksigen ke seluruh
tubuh dengan bantuan substansi yang disebut hemoglobin.Hemoglobin terbuat dari
dua macam protein yang berbeda, yaitu globin alfa dan globin beta. Protein
globin tersebut dibuat oleh gen yang berlokasi di kromosom yang berbeda. Apabila
satu atau lebih gen yang memproduksi protein globin tidak normal atau hilang,
maka akan terjadi penurunan produksi protein globin yang menyebabkan
thalassemia. Mutasi gen pada globin alfa akan menyebabkan penyakit alfa-
thalassemia dan jika itu terjadi pada globin beta maka akan menyebabkan
penyakit beta-thalassemia.
a)
Alfa-Thalassemia
Alfa-globin adalah
sebuah komponen (subunit) dari protein yang lebih besar yang disebut
hemoglobin, yang merupakan protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen
ke sel dan jaringan di seluruh tubuh. Hemoglobin terdiri dari empat subunit:
dua subunit alfa-globin dan dua subunit jenis lain globin.
HBA1 (Hemoglobin, alfa 1) adalah
gen yang memberikan instruksi untuk membuat protein yang disebut
alpha-globin. Protein ini juga diproduksi dari gen yang hampir identik
yang disebut HBA2 (Hemoglobin, alfa 2). Kedua gen globin alpha-terletak
dekat bersama-sama dalam sebuah wilayah kromosom 16 yang dikenal sebagai lokus
globin alfa.
Pada manusia normal terdapat 4 kopi gen alpha-globin
yang terdapat masing-masing 2 pada kromosom 16. Gen-gen ini membuat komponen
globin alpha pada hemoglobin orang dewasa normal, yang disebut hemoglobin A.
dan juga merupakan komponen dari hemoglobin pada janin dan orang dewasa
lainnya, yang disebut hemoglobin A2. Mutasi yang terjadi pada gen alpha globin
adalah delesi.
·
Delesi 1
gen α : tidak ada dampak pada kesehatan, tetapi orang tersebut mewarisi gen
thalasemia, atau disebut juga Thalassaemia
Carier/Trait
·
Delesi 2 gen α : hanya berpengaruh sedikit pada kelinan fungsi darah
·
Delesi 3
gen α : anemia berat, disebut juga Hemoglobin H (Hbh) disease
·
Delesi 4
gen α : berakibat fatal pada bayi karena alpha globin tidak dihasilkan sama
sekali
Gambar diatas menunjukkan bahwa kedua orang
tua yang pada gen nya terdapat masing-masing 2 gen yang sudah termutasi. Maka
anaknya 25% normal, 25% carrier, 25%
2 gen delesi, 25% menderita hemoglobin H disease.
b) Beta-Thalassemia
Globin beta adalah
sebuah komponen (subunit) dari protein yang lebih besar yang disebut
hemoglobin, yang terletak di dalam sel darah merah. HBB gen yang memberikan
instruksi untuk membuat protein yang disebut globin beta.
Lebih dari 250 mutasi
pada gen HBB telah ditemukan menyebabkan talasemia beta. Sebagian besar
mutasi melibatkan perubahan dalam satu blok bangunan DNA (nukleotida) dalam
atau di dekat gen HBB. Mutasi lainnya menyisipkan atau menghapus sejumlah
kecil nukleotida dalam gen HBB. Mutasi gen HBB yang menurunkan hasil produksi globin beta dalam kondisi yang
disebut beta-plus (B +) talasemia.
Tanpa globin beta,
hemoglobin tidak dapat terbentuk yang mengganggu perkembangan normal sel-sel
darah merah. Kekurangan sel darah merah akan menghambat oksigen yang akan
dibawa dan membuat tubuh kekurangan oksigen. Kurangnya oksigen dalam
jaringan tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ, dan masalah kesehatan lainnya
termasuk thalassemia beta.
Pada manusia normal terdapat 2 kopi gen beta
globin yang terdapat pada kromosom 11, yang membuat beta globin yang merupakan
komponen dari hemoglobin pada orang dewasa, yang disebut hemoglobin A. Lebih
dari 100 jenis mutasi yang dapat menyebabkan thalasemia β, misalkan mutasi beta 0 yang berakibat tidak adanya
beta globin yang diproduksi, mutasi beta +, dimana hanya sedikit dari beta
globin yang diproduksi.
Jika seseorang memiliki 1 gen beta globin
normal, dan satu lagi gen yang sudah termutasi, maka orang itu disebut carier/trait.
Gambar diatas menunjukkan bahwa
kedua orangtua merupakan carier/trait.
Maka anaknya 25% normal, 50% carier/trait,
25% mewarisi 2 gen yang termutasi (thalasemia mayor).
2.3 Patofisiologis
Defeknya adalah satu substitusi asam
amino pada rantai beta hemoglobin karena hemoglobin A normal mengandung dua
rantai α dan dua rantai β, maka terdapat dua gen untuk sintesa tiap rantai. Trait
sel sabit hanya mendapat satu gen normal, sehingga SDM masih mampu
mensintesa kedua rantai β dan βs, jadi mereka mempunyai hemoglobin A
dan S sehingga mereka tidak menderita anemia dan tampak sehat. Apabila dua
orang dengan trait sel sabit sama menikah, beberapa anaknya akan membawa dua
gen abnormal dan hanya mempuntai rantai βs dan hanya hemoglobin S,
maka anak akan menderita anemia sel sabit. (Smeltzer C Suzanne, 2002)
Hemoglobin paska kelahiran yang
normal terdiri dari dua rantai alpa dan beta polipeptide. Dalam beta thalasemia
ada penurunan sebagian atau keseluruhan dalam prosessintesis molekul hemoglobin
rantai beta. Konsekuensinya adanya peningkatan compensatori dalam proses
pensintesisan rantai alpa dan produksi rantai gamma tetap aktif, dan
menyebabkan ketidaksempurnaan formasihemoglobin .Polipeptid yang tidak seimbang
ini sangat tidak stabil, mudah terpisah dan merusak sel darah merah yang dapat
menyebabkan anemia yang parah. Untuk menanggulangi proses hemolitik, sel darah
merah dibentuk dalam jumlah yang banyak, atau setidaknya bone marrow ditekan dengan
terapi transfusi. Kelebihan fe dari penambahan RBCs dalam transfusi serta
kerusakan yang cepat dari sel defectif, disimpan dalam berbagai organ
(hemosiderosis).
2.4 Manifestasi Klinis
Penyakit Sel Sabit
No.
|
Sistem
|
Komplikasi
|
Tanda dan Gejala
|
1.
|
Jantung
|
Gagal jantung kongestif
|
Kardiomegali, takikardi, napas
pendek, dispnea sewaktu kerja fisik, gelisah
|
2.
|
Pernapasan
|
Infark paru, pneumonia
|
Nyeri dada, batuk, sesak napas,
demam, gelisah
|
3.
|
Saraf Pusat
|
Trombosis serebral
|
Afasia, pusing, kejang, sakit
kepala, disfungsi usus dan kandung kemih
|
4.
|
Genitourinaria
|
Disfungsi ginjal
|
Nyeri pinggang, hematuria
|
5.
|
Gastrointestinal
|
Kolesistitis, fibrosis hati, abses
hati
|
Nyeri perut, hepatomegali, demam
|
6.
|
Okular
|
Ablasio retina, penyakit pembuluh
darah perifer, perdarahan
|
Nyeri, perubahan penglihatan, buta
|
7.
|
Skeletal
|
Nekrosis aseptik kaput femoris dan
kaput humeri
|
Nyeri, mobilitas berkurang, nyeri
dan bengkak pada lengan dan kaki
|
8.
|
Kulit
|
Ulkus tungkai kronis
|
Nyeri, ulkus terbuka dan mengering
|
Thalasemia
Tanda-tanda :
- Kelesuan.
- Bibir, lidah, tangan, kaki dan bahagian lain berwarna pucat.
- Sesak nafas.
- Hilang selera makan dan bengkak di bagian abdomen. hemoglobin yang rendah yaitu kurang daripada 10g/dl.
Pada thalasemia
mayor gejala klinik telah terlibat sejak umur kurang dari 1 tahun. Gejala yang
tampak ialah anak lemah, pucat, perkembangan fisik tidak sesuai dengan umur
berat badan kurang. Pada anak yang besar sering dijumpai adanya gizi buruk,
perut membuncit, karena adanya pembesaran limfa dan hati yang diraba. Adanya
pembesaran hati dan limfa tersebut mempengaruhi gerak sipasien karena
kemampuannya terbatas. Limfa yang membesar ini akan mudah rupture karena trauma
ringan saja.
Gejala ini
adalah bentuk muka yang mongoloid, hidung pesek tanpa pangkal hidung, jarak
antara kedua mata lebar dan tulan dahi juga lebar. Hal ini disebabkan karena
adanya gangguan perkembangan ketulang muka dan tengkorak, gambaran radiologis
tulang memperhatikan medulla yang lebar korteks tipis dan trabekula besar.
Keadaan
kulit pucat kekuning-kuningan jika pasien telah sering mendapatkan transfusi
darah kulit menjadi kelabu serupa dengan besi akibat penimbunan besi dalam
jaringan kulit. Penimbunan besi (hemosiderosis) dalam jaringan tubuh seperti
pada hepar, limfa, jantung akan mengakibatkan gangguan faal alat-alat tersebut
(hemokromatosis).
2.5 Penatalaksanaan
Penyakit Sel Sabit
Sekitar
60% pasien anemia sel sabit mendapat serangan nyeri yang berat hampir
terus-menerus dan terjadinya anemia sel sabit selain dapat disebabkan karena
infeksi dapat juga disebabkan oleh beberapa faktor misalnya perubahan suhu yang
ekstrim, stress fisis atau emosional lebih sering serangan ini terjadi secara
mendadak.Orang dewasa dengan anemia sel sabit sebaiknya diimunisasi terhadap
pneumonia yang disebabkan pneumokokus.Tiap infeksi harus diobati dengan
antibiotik yang sesuai.Transfusi SDM hanya diberikan bila terjadi anemia berat
atau krisis aplastik.Pada kehamilan usuhakan agar Hb 10-12 g/dl pada trimester
ketiga.Kadar Hb perlu dinaikkan hingga 12-14 g/dl sebelum operasi. Penyuluhan
sebelum memilih pasangan hidup adalah untuk mencegah keturunan yang homozigot
dan mengurangi kemungkinan heterozigot.(Noer Sjaifullah, 1999).
Thalasemia
a) Medikamentosa
Pemberian iron
chelating agent (desferoxamine): diberikan setelah kadar feritin serum sudah mencapai
1000 mg/l atau saturasi transferin lebih 50%, atau sekitar 10-20 kali transfusi
darah.
Desferoxamine, dosis 25-50
mg/kg berat badan/hari subkutan melalui pompa infus dalam waktu 8-12 jam dengan
minimal selama 5 hari berturut setiap selesai transfusi darah.Vitamin C 100-250
mg/hari selama pemberian kelasi besi, untuk meningkatkan efek kelasi besi.
Asam folat 2-5 mg/hari
untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.Vitamin E 200-400 IU setiap hari
sebagai antioksidan dapat memperpanjang umur sel darah merah.
b)
Bedah
Splenektomi,
dengan indikasi : Limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi gerak penderita,
menimbulkan peningkatan tekanan intraabdominal dan bahaya terjadinya
ruptur Hipersplenisme ditandai dengan peningkatan kebutuhan transfusi darah
atau kebutuhan suspensi eritrosit (PRC) melebihi 250 ml/kg berat badan dalam
satu tahun.
c)
Suportif
Transfusi darah
:Hb penderita dipertahankan antara 8 g/dl sampai 9,5 g/dl. Dengan kedaan ini
akan memberikan supresi sumsum tualang yang adekuat, menurunkan tingkat
akumulasi besi, dan dapat mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan
penderita. Pemberian darah dalam bentuk PRC (packed red cell), 3 ml/kg
BB untuk setiap kenaikan Hb 1 g/dl.
d)
Lain-lain (rujukan subspesialis,
rujukan spesialisasi lainnya dll)
Tumbuh kembang, kardiologi, Gizi,
endokrinologi, radiologi, Gigi
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PENYAKIT SEL SABIT DAN THALASEMIA
3.1 Pengkajian Keperawatan Penyakit
Sel Sabit
3.1.1 Pengkajian
Data-data
yang perlu dikaji dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang
menderita anemia sel sabit yaitu :
a)
Pengumpulan Data
1) Identifikasi
klien : nama
klien, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku / bangsa, pendidikan,
pekerjaan, dan alamat.
2) Identitas
penanggung
3) Keluhan
utama dan riwayat kesehatan masa lalu
Keluhan utama : pada keluhan utama
akan nampak semua apa yang dirasakan klien pada saat itu seperti kelemahan,
nafsu makan menurun dan pucat.
Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat kesehatan masa lalu akan memberikan informasi kesehatan atau penyakit masa lalu yang pernah diderita,
Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat kesehatan masa lalu akan memberikan informasi kesehatan atau penyakit masa lalu yang pernah diderita,
Pemeriksaan Fisik :
1) Aktivitas
/ istirahat
Gejala : Keletihan / kelemahan
terus-menerus sepanjang hari.
Kebutuhan tidur lebih besar dan istirahat.
Kebutuhan tidur lebih besar dan istirahat.
Tanda :Gangguan gaya berjalan
2) Sirkulasi
Gejala : Palpitasi atau nyeri.
Tanda : Tekanan darah menurun, nadi
lemah, pernafasan lambat, warna kulit pucat atai sianosis, konjungtiva pucat.
3) Eliminasi
Gejala : Sering berkemih, nokturia
(berkemih malam hari.
4) Integritas
ego
Gejala : Kuatir, takut.
Tanda : Ansietas, gelisah.
5) Makanan
/ cairan
Gejala : Nafsu makan menurun.
Tanda : Penurunan berat badan,
turgor kulit buruk dengan bekas gigitan, tampak kulit dan membran mukosa
kering.
6) Hygiene
Gejala : Keletihan / kelemahan
Tanda : Penampilan tidak rapi.
7) Neurosensori
Gejala : Sakit kepala / pusing,
gangguan penglihatan.
Tanda : Kelemahan otot, penurunan
kekuatan otot.
8) Nyeri
/ kenyamanan
Gejala : Nyeri pada punggung, sakit
kepala.
Tanda : Penurunan rentang gerak,
gelisah.
9) Pernafasan
Gejala : Dispnea saat bekerja.
Tanda : Mengi
10) Keamanan
Gejala : Riwayat transfusi.
Tanda : Demam ringan, gangguan
penglihatan.
11) Seksualitas
Gejala : Kehilangan libido.
(Doenges, E, Marilynn, 2000, hal : 582 – 585).
(Doenges, E, Marilynn, 2000, hal : 582 – 585).
b) Pemeriksaan Penunjang
1) Jumlah darah lengkap (JDL) : leukosit
dan trombosit menurun.
2) Retikulosit : jumlah dapat
bervariasi dari 30 % – 50 %.
3) Pewarnaan SDM : menunjukkan sebagian
sabit atau lengkap.
4) LED : meningkat
5) Eritrosit : menurun
6) GDA : dapat menunjukkan penurunan
PO2
7) Billirubin serum : meningkat
8) LDH : meningkat
9) TIBC : normal sampai menurun
10) IVP : mungkin dilakukan untuk mengevaluasi
kerusakan ginjal
11) Radiografik tulang : mungkin menunjukkan
perubahan tulang
12) Rontgen : mungkin menunjukkan
penipisan tulang.
c)
Klasifikasi Data
Data Subjektif :
a) Keletihan / kelemahan.
b) Nokturi.
c) Nafsu makan menurun.
d) Nyeri pada punggung.
e) Sakit kepala.
f) Berat badan menurun.
g) Gangguan penglihatan.
Data Objektif :
a) Konjungtiva pucat.
b) Gelisah.
c) Warna kulit pucat.
d) Gangguan gaya berjalan.
e) Tekanan darah menurun.
f) Demam ringan.
g) Eritrosit menurun.
h) Bilirubin serumen : meningkat.
i)
JDL
: leukosit dan trombosit menurun.
j)
LDH
meningkat.
(Doenges
E. Mariylnn, 2000, hal : 582 – 585).
3.1.2 Rencana Asuhan Keperawatan
a.
Diagnosa
Keperawatan
Adapun kemungkinan diagnosa
keperawatan pada klien anemia sel sabit baik aktual maupun potensial adalah
sebagai berikut :
1.
Nyeri
berhubungan dengan diogsigenasi jaringan (Hb menurun).
2.
Gangguan
perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan fungsi / gangguan pada sum-sum
tulang.
3.
Aktifitas
intolerance berhubungan dengan kelemahan otot.
4.
Nutrisi
kurang dari kebutuhan berhubungan dengan porsi makan tidak dihabiskan.
5.
Integritas
kulit berhubungan dengan menurunnya aliran darah ke jaringan.
6.
Resiko
tinggi infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit.
7.
Kecemasan
/ kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
penyakitnya.
b.
Rencana
keperawatan
1.
Nyeri berhubungan dengan
diogsigenasi jaringan (HB rendah)
Tujuan :
Tidak merasakan nyeri,
Tindakan
keperawatan :
a. Kaji tingkat nyeri
Rasional :
Dengan mengkaji tingkat nyeri dapat mempermudah dalam menentukan intervensi
selanjutnya.
b. Anjurkan klien teknik nafas dalam
Rasional :
Dengan menarik nafas dalam memungkinkan sirkulasi O2 ke jaringan terpenuhi.
c. Bantu klien dalam posisi yang nyaman
Rasional :
Mengurangi ketegangan sehingga nyeri berkurang.
d. Kolaborasi pemberian penambah darah
Rasional :
Membantu klien dalam menaikkan tekanan darah dan proses penyembuhan.
2. Gangguan
perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan fungsi / gangguan sumsum tulang
Tujuan :
Perfusi jaringan adekuat
Tindakan
keperawatan :
a. Ukur tanda-tanda vital
Rasional :
Untuk mengetahui derajat / adekuatnya perfusi jaringan dan menentukan intevensi
selanjutnya.
b. Tinggikan kepala tempat tidur klien
Rasional :
Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler
c. Pertahankan suatu lingkungan yang
nyaman
Rasional :
Vasekonstriksi menurunkan sirkulasi perifer dan menghindari panas berlebihan
penyebab vasodilatasi.
d. Anjurkan klien untuk menghentikan aktivitas
bila terjadi kelemahan
Rasional :
Stres kardiopulmonal dapat menyebabkan kompensasi.
3. Aktivitas
intolerance berhubungan dengan kelemahan otot
Tujuan :
aktifitas toleransi, dengan kriteria : klien bisa melakukan aktivitas sendiri.
Tindakan
keperawatan :
a. Kaji tingkat aktifitas klien
Rasional :
Untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan klien dan untuk menetukan intervensi selanjutnya.
b. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan
klien
Rasional :
Untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhannya.
c. Bantu pasien dalam melakukan latihan
aktif dan pasif
Rasional :
Untuk meningkatkan sirkulasi jaringan
d. Bantu pasien dalam memenuhi
kebutuhan ADLnya
Rasional :
Dengan bantuan perawat dan keluarga klien dapat memenuhi kebutuhannya.
e. Berikan lingkungan tenang
Rasional :
Meningkatkan istirahat untuk menurunkan regangan jantung dan paru.
4. Nutrisi
kurang dari kebutuhan berhubungan dengan porsi makan tidak dihabiskan
Tujuan : Nutrisi terpenuhi dengan
kriteria : nafsu makan meningkat, porsi makan dihabiskan.
Tindakan
keperawatan :
a. Kaji riwayat nutrisi termasuk
makanan yang disukai
Rasional : Mengidentifikasi
efisiensi, menduga kemungkinan intervensi.
b. Anjurkan klien makan sedikit-sedikit
tapi sering dan bervariasi
Rasional : Pemasukan makanan atau
menambah kekuatan dan diberikan sedikit-sedikit agar pasien tidak merasa bosan.
c. Beri HE tentang pentingnya makanan
atau gizi
Rasional : Makanan yang bergizi dapat mempercepat penyembuhan penyakitnya.
Rasional : Makanan yang bergizi dapat mempercepat penyembuhan penyakitnya.
d. Timbang berat badan setiap hari.
Rasional : Mengawasi penurunan BB
atau efektivitas intervensi nutrisi.
e. Penatalaksanaan pemberian vitamin
B1.
Rasional : Vitamin bisa menambah
nafsu makan.
f. Konsul pada ahli gizi
Rasional : Membantu dalam membuat
rencana diit untuk memenuhi kebutuhan individu.
5. Gangguan
integritas kulit berhubungan dengan menurunnya aliran darah ke jaringan
Tujuan : Mempertahankan integritas
kulit dengan kriteria : kulit segar, sirkulasi darah lancar
Tindakan keperawatan :
a. Kaji integritas kulit, catat pada
perubahan turgor, gangguan warna
Rasional : Kondisi kulit dipengaruhi
oleh sirkulasi, nutrisi dan imobilitas
b. Anjurkan permukaan kulit kering dan
bersih
Rasional : Area lembab,
terkontamiansi memberikan media yang sangat baik untuk pertumbuhan organisme
patogenik
c. Ubah posisi secara periodik
Rasional : Meningkatkan sirkulasi ke
semua area kulit membatasi iskemia jaringan / mempengaruhi hipoksia selular.
d. Tinggikan ekstremitas bawah bila
duduk
Rasional : Meningkatkan aliran balik
vena menurunkan statis vena / pembentukan edema.
6. Resiko
tinggi infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit
Tujuan : Mencegah / menurunkan
resiko infeksi
Tindakan keperawatan :
a. Berikan perawatan kulit
Rasional : Menurunkan resiko kerusakan
kulit / jaringan dan infeksi
b. Dorong perubahan posisi / ambulasi
yang sering
Rasional : Meningkatkan ventilasi
semua segmen paru dan membantu mobilisasi sekresi
c. Tingkatkan masukan cairan adekuat
Rasional : Membantu dalam
mengencerkan sekret pernafasan untuk mempermudah pengeluaran dan mencegah
statis cairan tubuh.
d. Pantau suhu, catat adanya menggigil
dan takikardia
Rasional : Adanya proses inflamasi /
infeksi membutuhkan evaluasi / pengobatan.
7. Kurangnya
pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya
Tujuan : Memahami tentang
penyakitnya, mau menerima keadaan penyakitnya, klien tidak bertanya tentang
penyakitnya
Tindakan keperawatan :
a. Berikan informasi tentang
penyakitnya
Rasional : Memberikan dasar
pengetahuan sehingga pasien dapat membuat pilihan yang tepat, menurunkan
ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program terapi
b. Kaji pengetahuan pasien tentang
penyakitnya
Rasional : Memberi pengetahuan
berdasarkan pola kemampuan klien untuk memilih informasi
c. Dorong mengkonsumsi sedikitnya 4 – 6
liter cairan perhari
Rasional : Mencegah dehidrasi dan
konsekuensi hiperviskositas yang dapat membuat sabit/krisis.
d. Dorong latihan rentang gerak dan
aktivitas fisik teratur dengan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat
Rasional : Mencegah demineralisasi
tulang dan dapat menurunkan resiko fraktur.
3.2
Pengkajian Keperawatan Thalasemia
3.2.1 Pengkajian
1.
Identitas
: Nama, umur, jenis kelamin
2.
Keluhan
utama : Kulitnya kuning dan perutnya kelihatan membesar
selama satu minggu disertai pucat pada mukanya, hilangnya
nafsu makan dan kadang mual.
3.
Riwayat kesehatan sekarang :
Thalasemia.
4.
Pemeriksaan
fisik :
-
Wajah
: Muka pucat.
-
Abdomen : Perut membesar karena
pembesaran limpa dan hati.
5. Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan darah, umumnya didapatkan hasil :
a. Hb dan eritrosit menurun.
b. Leukosit : menurun.
c. Thrombosit: menurun
(thrombositopeni).
d. Plasma menurun.
No.
|
Data focus
|
Etiologi
|
Problem
|
1
|
DS :
Pucat
DO :
Hasil laboratorium: Hb dan
eritrosit menurun, leukosit menurun, trombosit menurun (trombositopeni).
|
Rendahnya
eritrosit dan Suplai oksigen yang menjadi kurang.
|
Perubahan
Perfusi jaringan
|
2
|
DS :
Perutnya
membesar
DO :
Pembesaran limpa dan hati
|
Peningkatan Fe dalam darah
|
Intoleransi
aktivitas
|
3
|
DS :
kulit pucat kekuning-kuningan
DO :
Kulit pucat
|
penimbunan
zat besi dalam jaringan kulit (hemosiderosis).
|
Gangguan
integritas kulit
|
4
|
DS :
Berat
badannya semakin turun
nafsu makan
turun
mual
DO :
anoreksia
|
Penekanan
ruang abdomen
|
Gangguan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
|
ANALISA DATA
3.2.2 Rencana Asuhan Keperawatan

1.
Perubahan Perfusi jaringan b.d
berkurangnya komponen seluler yang penting untuk menghantarkan oksigen atau zat
nutrisi ke sel
2.
Intoleransi aktivitas b.d tidak
seimbangnya kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen
3.
Gangguan integritas kulit b.d
peningkatan jumlah Fe dalam tubuh
4.
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d mual, anoreksia

1. Setelah
dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien mampu
mempertahankan perfusi jaringan adekuat di tandai dengan kriteria hasil: Nadi
perifer teraba, kulit hangat atau kering, tidak terjadi sianosis
2. Setelah
dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien mampu melakukan
aktivitas sehari-hari, dengan kriteria hasil : anak bermain dan beristirahat
dengan tenang serta dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
3. Setelah
dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan klien mampu :
menunjukkan regenerasi jaringan, mencapai penyembuhan tepat waktu.
4. Setelah
dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien mampu :
Menunjukkan adanya peningkatan berat badan, nafsu makan anak meningkat, anak
mengkonsumsi jumlah makanan yang bernutrisi.

1) Diagnosa I :
·
Awasi tanda vital, palpasi nadi
perifer.
·
Lakukan pengkajian neurofaskuler
periodik, misalnya sensasi, gerakan nadi, warna kulit atau suhu
·
Berikan oksigenasi sesuai dengan
indikasi
2) Diagnosa
II :
·
Kaji toleransi fisik anak dan bantu
anak dalam aktivitas sehari-hari yang melebihi toleransi anak
·
Berikan anak aktivitas pengalihan
misalnya bermain
·
Berikan anak periode tidur dan
istirahat sesuai kondisi dan usia
3)
Diagnosa III :
·
Kaji cacat ukuran, warna, kedalaman
luka, perhatikan jaringan dan kondisi adanya luka
·
Berikan perawatan luka jika terdapat
luka dan tindakan kontrol infeksi
·
Pertahankan posisi yang diinginkan dan
mobilisasi area bila diindikasikan
·
Evaluasi warna sisi adanya luka
perhatikan adanya atau tidak adanya penyembuhan
·
Berikan makanan yang disukai anak yang
mengandung protein
·
Batasi makan-makanan yang banyak
mengandung Fe
·
Tingkatkan masukan peroral pada anak
4)
Diagnosa IV :
·
Berikan makanan yang bergizi (TKTP)
·
Berikan minuman yang bergizi pada anak
misalnya susu
·
Berikan anak porsi makan yang sedikit
tapi dengan lauk yang bervariasi misalnya: pagi telur siang daging
·
Berikan suplement atau vitamin pada
anak
·
Berikan lingkungan yang menyenangkan,
bersih dan rileks pada saat makan misalnya makan ditaman

o
Berikan pengikat zat besi (desferoxamine)
Selama 10 jam 5x seminggu
o
Vitamin C 100-250 mg sehari selama
pemberian kelasi besi
o
Asam folat 2-5 mg/hari
o
Vitamin E 200-400 IU setiap hari

Diagnosa I :
·
Indikator umum status sirkulasi dan
keadekuatan sirkulasi
·
Untuk mengetahui status kesadaran klien
·
Untuk mensuplai kebutuhan organ tubuh
Diagnosa
II :
·
Menetapkan kemampuan atau kebutuhan
pasien
·
Aktivitas pengalihan dapat membantu
anak melakukan aktivitas sesuai kemampuan
·
Istirahat yang cukup berguna untuk
mempercepat pemulihan kebutuhan anak
Diagnosa
III :
·
Memberikan informasi dasar tentang
penanaman dan kemungkinan petunjuk tentang sirkulasi darah
·
Menurunkan resiko infeksi infeksi
·
Gerakan jaringan dibawah dapat mengubah
posisi mempengaruhi penyembuhan optimal
·
Mengevaluasi keefektifan sirkulasi dan
mengidentifikasi terjadinya komplikasi
·
Perbaikan nutrisi akan
mempercepat penyembuhan luka pada anak
·
Menguerangi jumlah Fe dalam tubuh
·
Untuk mengimbangi dengan jumlah
Fe yang tinggi dalam darah
Diagnosa IV :
·
Untuk memenuhi kebutuhan tubuh, untuk
mempercepat pemulihan
·
Untuk memenuhi kekurangan kalori
·
Merangsang nafsu makan
·
Memudahkan absorbsi makanan
·
Meningkatkan nafsu makan anak
·
Karena transfusi itu sendiri
menyebabkan kelebihan zat besi sehingga perlu pemberian pengikat zat besi
·
Untuk meningkatkan efek kelasi besi
·
Untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat
·
Sebagai anti oksidan dan dapat
memperpanjang umur sel darah merah
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Penyakit Sel Sabit (sickle cell disease) adalah suatu
penyakit keturunan yang ditandai dengan sel darah merah yang berbentuk sabit
dan anemia hemolitik kronik.Penyakit sel sabit/ anemia sel sabit
merupakan gangguan genetik resesif autosomal, yaitu individu memperoleh
hemoglobin sabit (hemoglobin S) dari kedua orangtua. Hal-hal yang dapat menjadi
penyebab anemia sel sabit adalah infeksi, disfungsi jantung, disfungsi paru,
anastesi umum, dataran tinggi, dan menyelam..
Thalassemia
merupakan penyakit genetik yang disebabkan oleh ketidaknormalan pada protein
globin yang terdapat di gen. Jika globin alfa yang rusak maka penyakit itu
dinamakan alfa-thalassemia dan jika globin beta yang rusak maka penyakit itu
dinamakan alfa thalassemia. Gejala yang terjadi dimulai dari anemia hingga
osteoporosis. Thalassemia harus sudah diobati sejak dini agar tidak berdampak
fatal. Pengobatan yang dilakukan adalah dengan melakukan transfusi darah,
meminum beberapa suplemen asam float dan beberapa terapi.
4.2
Saran
Karena penyakit dapat menimbulkan krisis yang berbahaya, mereka
yang mengidap anemia sel sabit perlu bekerja keras untuk mempertahankan
kesehatan yang baik. Mereka dapat melakukan hal ini dengan menjaga kebersiahn
pribadi, dengan menghindari aktivitas yang berat yang berkepanjangan, dan
dengan mengkonsumsi makanan yang seimbang dan baik. Para penderita anemia sel
sabit hendaknya juga melakukan pemeriksaan medis yang teratur.Jika penderita
anemia sel sabit sering melakukan pemeriksaan medis dengan teratur, maka ini
memungkinkan banyak penderita anemia sel sabit untuk hidup secara normal.
Dengan mengetahui konsep dasar dan asuhan keperawatan pada
pasien anemia sel sabit, diharapkan dalam memberikan pelayanan kesehatan harus
secara profesional dan komprehensif sehingga meminimalkan kemungkinan terjadi
komplikasi.
Untuk Thalassemia harus sudah didiagnosis
sejak dini dan diharapkan kepada penderita agar peduli terhadap penyakitnya.
Karena gejala awalnya seperti anemia biasa, maka gejala tersebut jangan
diabaikan dan lakukan pengobatan sejak dini serta konsultasikan kepada dokter.
Untuk menghindari resiko akibat penyakit
thalassemia, Pemerintah diharapkan agar menghimbau dan memberikan informasi
yang jelas kepada masyarakat mengenai penyakit thalassemia dengan jelas dan
bagaimana penanggulangan yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges,
Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan Dan
Pendokumentasiaan Perawatan Pasien. EGC: Jakarta
Price,
Sylvia A. 2006. Patofisisologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume
1. EGC: Jakarta
Smeltzer,
Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Volume 2.EGC:
Jakarta
Arif
Mansjoer, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3.Jakarta : Media Aesculapius,
2000
Children's Hospital & Research Center Oakland. 2005. “What is Thalassemia and Treating Thalassemia”.
National Hearth Lung and Blood
Institute. 2008. ”Thalassemias”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar