Kamis, 12 April 2012

Observasi Teluk Engros


Disusun Oleh :
KELOMPOK 5
1.     ANDREAS V. MIRINO (NIM.0101040031)
2.     ARIS  KOGOYA (NIM. 0101040026)
3.     FERI  TRI  ARTANTO (NIM. 0101040021)
4.     HALVIZAH  H (NIM. 0101040076)
5.     JOHN  L.  TATIPATA (NIM. 0101040009)
6.     NUR ROKHMAN WAKHID (NIM.0101040122)
7.     PETRUS  YULIANTO (NIM. 0101040013)
8.     RAMADHAN  TRYBAHARI  S (NIM. 0101040078)











PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2012

Asal Mula dan Sejarah Suku Enggros
Asal mulanya suku Enggros dan Tobati dulunya adalah satu bagian yang sama. Enggros dan Tobati berasal dari satu nenek moyang. Mereka mempunyai 12 orang anak, yang terdiri dari 11 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Asal mulanya teluk Enggros yaitu berbentuk kolam. Enggros dan Tobati terpisah karena perbuatan kedua belas anaknya yang melakukan perebutan hak sehingga menyebabkan Enggros dan Tobati terpecah menjadi dua.
Dulunya kampung Enggros disebut Lugmoh yang artinya Kampung diatas bukit dan berubah menjadi Injros yang artinya Tempat Kedua. Ada 12 nama kepala suku yang terdapat di teluk Enggros yang dipakai sebagai nama marga. Kedua belas nama suku tersebut yaitu Sanyi, Meraudje, Anasbey, Ababu, Iwo, Indama, Samay, Mano, Sembra, Drunyi, dan Irew. Untuk pergantian Ondoafi pada suku enggros, hanya dua nama marga yang boleh dipilih sebagai Ondoafi, yaitu Meraudje dan Samay. Dari 12 nama kepala suku tersebut, masing-masing mempunyai fungsi dan peran yang berbeda-beda. Sebagaian ada yang berperan sebagai Aparat Pemerintah Kampung Bagian Pembangunan, ada yang berperan sebagai Aparat Pemerintah Kampung Bagian Kerohanian, dan lain-lain.
Kebudayaan  suku Engross-Tobati diturunkan dari nenek moyang sampai keturunan saat ini, seperti saat akan berkebun di daratan, tidak boleh tengok kiri kanan. Pada saat akan menjaring ikan, penduduk dilarang memotong kayu, dilarang membuat keributan. Komunikasi pada saat itu menggunakan Indera Keenam (Telepati), karena saat itu belum ada alat komunikasi yang lainnya. Riasan untuk orang Enggros tidak boleh dirias oleh orang dari luar, kecuali sudah ada ijin langsung dari Ondoafi.
Sistem pemerintahan yang ada di kampung ini sama halnya dengan sistem pemerintahan yang ada di Indonesia pada umumnya, sudah ada bagian-bagian tertentu yang menanganinya. Bagian-bagian tersebut dapat di bedakan dengan cara melihat Mata Rumah yg terdapat diatas rumah penduduk. Wilayah kekuasaan  Tobati-Engross dulunya mulai dari Buper Waena sampai dengan perbatasan  Papua  New Guinea (PNG). Pemerintahan yang pertama dibentuk di wilayah Jayapura  yaitu di teluk Enggros pada tahun 1963, setelah itu dipindahkan ke wilayah Abepura. Jika ada keputusan yang harus diambil secara mendadak, maka dikumpulkanlah 12 kepala suku tersebut lalu dimusyawarahkan bersama, dan keputusan akhir akan di berikan oleh Ondoafi.
Pada saat itu, sistem perekonomian perkampungan tidak tergantung pada uang atau tidak menilai dengan uang. Pada saat salah satu warganya menemukan atau menangkap banyak ikan (ikan besar), ikan tersebut tidak diambil sendiri, melainkan. hasil ikan tersebut yang didapatkan, dikumpulkan  lalu dibagi-bagikan ke masyarakat yang lainnya melalui bagian yang sudah ditentukan. Yang diutamakan adalah Janda dan Guru / Pendeta. Hukuman atau sanksi untuk yang melanggar peraturan adat istiadat bayaran denda berupa Manik-manik untuk kalangan bawah atau rakyat biasa, dan Gelang-gelang untuk kalangan berada atau kalangan bangsawan.
Hak-hak wilayah orang Enggros-Tobati sangat terikat. Orang Enggros-Tobati tidak bisa melewati Sentani ataupun Nafri. Wilayah orang Tobati-Enggros dari  Pasir Dua sampai  Wutung. Hak strukturalisasi sangat dijunjung tinggi, dari kakak dulu, lalu turun ke adik. Adik tidak boleh mendapatkan yang lebih dari kakak. Begitupun sebaliknya, kakak tidak bisa mendapatkan lebih rendah dari adik.
Pada zaman dulu, dalam sistem perkawinan di suku Enggros, mereka tidak bisa menikah keluar atau dengan orang luar, hanya bisa menikah dengan sesama suku enggros. Jika ada anak perempuan dari suku Enggros yang melakukan perkawinan keluar, anak perempuan tersebut tetap mempunyai hak mendapat warisan dari orang tuanya yang disebut “MON SOHRIC”, yang artinya “MON” berarti “Perempuan”  “SOHRIC” berarti “Noken”.
Apabila  ada orang yang sakit, yang menanganinya adalah orang tua khusus yang dianggap sebagai Tabib. Dan apabila ada warganya yang meninggal, maka jasadnya tersebut di antar terlebih dulu ke kampung. Lalu setelah itu dibicarakan dengan keluarga almarhum, siapa saja yang akan diberitahukan kabar dukanya, dan lalu akan ada satu orang yang diutus untuk pergi menyebarkan berita duka tersebut ke orang yg dituju yg disebut “Pembawa Berita”.
1.  Bahasa
Bahasa yang digunakan oleh orang Enggros adalah bahasa Tobati. Contohnya, dalam penyebutan angka 1 sampai 6 yaitu Tei, Ros, Tor, Aw, Meniang, dan Mandosir.  Untuk penyebutan nama Tuhan yaitu Temar.
2.  Sistem Kepercayaan (Agama)
Pada awalnya, Kepercayaan masyarakat suku engross mereka mempercayai kepada  matahari sebagai tuhan  mereka yang disebut Temar. Lalu, pada tanggal 10 maret 1910  masuknya  Injil di tanah papua  tepatnya di teluk Enggros (Metu Tabi) yang dibawa oleh Pendeta Van Laurens Tanamal, sehingga sebagaian besar masyarakat setempat mulai saat sejak itu sampai dengan sekarang mereka mempercayai adanya TUHAN untuk mereka sembah, dan tidak menyembah lagi kepada matahari sebagai tuhan. Rata-rata masyarakat di Enggros, mereka menganut agama Kristen. Di teluk Enggros ada terdapat 2 nama gereja yaitu Gereja ABARA untuk Kristen Protestan (GKI) dan Gereja Betlehem untuk Pentakosta.
3.  Sistem Pengetahuan (Pendidikan)
Pada saat itu belum ada pendidikan yang dicapai. Pada awalnya pendidikan di masyarakat setempat belum mengenal adanya sekolah. Mereka belajar dari alam, misalnya mereka menghitung hari dengan cara menggunakan ranting kayu atau lidi yang sudah di tentukan jumlahnya dan dipilah-pilah satu-persatu setiap harinya.
Pada tahun 50-an mulai berdirinya sebuah Sekolah Rakyat yang pertama di daerah setempat yang dibangun oleh pemerintahan Belanda. Sejak tahun 60-an, Sekolah Rakyat tersebut ditutup lalu dipindahkan ke darat yaitu di daerah Abepura (yang sekarang dikenal dengan nama SD Negeri 1 Jayapura).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar